Gagasan Tokoh Pergerakan Nasional

Dibagikan oleh pengguna Flashcards.gg · dibuat dengan AI · Laporkan set ini

Kumpulan informasi mengenai gagasan, filosofi, dan visi tokoh-tokoh pergerakan nasional Indonesia. Ditujukan untuk pelajar dan pencinta sejarah.

52 kartu Bahasa Indonesia Tingkat: Sekolah Lainnya Dipublikasikan
Ketuk kartu untuk membalik

Kartu · 52

Soekarno
Menggagas Marhaenisme, persatuan nasional lintas ideologi (Nasakom), serta perumusan dasar negara Pancasila untuk membebaskan rakyat dari imperialisme.
Mohammad Hatta
Menekankan kedaulatan rakyat melalui demokrasi politik dan demokrasi ekonomi yang diwujudkan lewat asas kekeluargaan dan koperasi.
Ki Hajar Dewantara
Mencetuskan sistem pendidikan Among berbasis kemerdekaan jiwa, budi pekerti, dan semboyan 'Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani'.
Sutan Sjahrir
Memperjuangkan sosialisme demokratis yang menjunjung tinggi kebebasan individu, anti-fasisme, dan modernisasi rasional tanpa feodalisme.
H.O.S. Tjokroaminoto
Memadukan ajaran Islam dengan sosialisme untuk membangkitkan kesadaran politik kaum pribumi serta melawan eksploitasi kolonial (zelfbestuur).
Tan Malaka
Menggagas konsep Republik Indonesia pertama kali (Naar de Republiek Indonesia), persatuan massa melalui Aksi Massa, dan sintesis komunisme dengan Islam.
Douwes Dekker (Danudirja Setiabudi)
Mengusung nasionalisme Hindia (indisch) yang inklusif bagi semua orang yang menganggap tanah Hindia sebagai tanah airnya tanpa membedakan ras.
Tjipto Mangoenkoesoemo
Memperjuangkan kesetaraan radikal antara pribumi dan penjajah, menolak feodalisme Jawa, serta menuntut kemerdekaan penuh Hindia Belanda.
Suwardi Suryaningrat
Mengkritik kemunafikan kolonial lewat tulisan 'Als ik eens Nederlander was' dan menuntut kebebasan berekspresi serta hak pendidikan pribumi.
K.H. Ahmad Dahlan
Memperbarui pemikiran Islam melalui modernisasi pendidikan, amalan sosial (kesejahteraan dan kesehatan), serta pemurnian ajaran dari takhayul.
K.H. Hasyim Asy'ari
Menegakkan tradisi Ahlussunnah wal Jama'ah, merumuskan resolusi jihad bela tanah air, dan menjaga persatuan umat beragama di bawah panji kebangsaan.
R.A. Kartini
Memperjuangkan emansipasi wanita, kesetaraan akses pendidikan bagi kaum perempuan, serta penghapusan adat feodal yang mengekang kebebasan berpikir.
Dewi Sartika
Mewujudkan kemandirian perempuan bumiputra melalui pendirian sekolah khusus wanita (Sakola Istri) yang mengajarkan keterampilan hidup dan baca-tulis.
Wahidin Soedirohoesodo
Menggagas dana pendidikan (studiefonds) untuk memajukan pengajaran kaum priyayi rendahan dan memicu lahirnya organisasi Boedi Oetomo.
Soetomo
Menekankan kemajuan sosio-budaya dan penguatan ekonomi rakyat melalui pembentukan organisasi moderat seperti Boedi Oetomo dan Parindra.
Haji Agus Salim
Memperjuangkan diplomasi berlandaskan intelektual Islam, modernisasi pandangan politik santri, serta kecakapan negosiasi internasional.
Semaun
Memperkenalkan perjuangan kelas buruh berbasis Marxisme awal dan mengorganisasi serikat buruh kereta api (VSTP) melawan modal kolonial.
Darsono
Mendorong militansi kaum tani dan buruh untuk melakukan perlawanan struktural terhadap kapitalisme kolonial melalui perserikatan radikal.
Mohammad Yamin
Menekankan wawasan kebangsaan berbasis kebesaran sejarah Nusantara (Sriwijaya dan Majapahit) serta menggagas persatuan bahasa Indonesia.
Soepomo
Merumuskan gagasan negara integralistik (kebersamaan dan kekeluargaan) yang menolak individualisme Barat serta menyatukan pemimpin dan rakyat.
Sam Ratulangi
Mengusung falsafah 'Si tou timou tumou tou' (manusia hidup untuk memanusiakan orang lain) dan memperjuangkan kesetaraan warga kawasan timur.
Mohammad Natsir
Menggagas Mosi Integral untuk menyatukan RIS kembali ke NKRI serta memadukan nilai demokrasi dengan syariat Islam secara konstitusional.
Iwa Koesoemasoemantri
Menyuarakan hak buruh dan tani secara radikal lewat jalur hukum nasionalis serta menolak kompromi dengan imperialisme Barat.
Ali Sastroamidjojo
Menekankan politik luar negeri bebas aktif serta solidaritas antarbangsa Asia-Afrika guna menentang segala bentuk neokolonialisme.
Rasuna Said
Menyuarakan keterlibatan perempuan dalam perlawanan politik radikal melalui orasi dan jurnalisme yang mengecam keras eksploitasi kolonial.
K.H. Mas Mansyur
Mendorong gerakan pembaharuan Islam modernis yang moderat serta aktif berkolaborasi dalam gerakan kebangsaan 'Empat Serangkai'.
Sartono
Mengadvokasi perjuangan kebangsaan melalui jalur partai massa mandiri (Partindo) setelah penangkapan para pemimpin PNI non-kooperatif.
S.K. Trimurti
Menegaskan pentingnya perjuangan hak-hak buruh perempuan dan kebebasan pers sebagai pilar utama kemerdekaan bangsa.
K.H. Wahid Hasyim
Menjembatani pandangan Islam dan nasionalisme sekuler serta merumuskan kompromi Piagam Jakarta menuju sila Ketuhanan Yang Maha Esa.
Johannes Leimena
Mewujudkan integrasi politik kaum Kristen ke dalam perjuangan Republik serta menekankan politik pelayanan demi persatuan nasional.
I.J. Kasimo
Menerapkan prinsip keadilan sosial dan integritas moral dalam perjuangan kemerdekaan melalui jalur politik kepartaian Katolik nasionalis.
Abdoel Moeis
Mengobarkan kesadaran anti-kolonial lewat karya sastra dan memimpin pemogokan buruh menentang penindasan ekonomi Belanda.
Tirto Adhi Soerjo
Merintis jurnalisme advokasi pribumi lewat 'Medan Prijaji' dan memprakarsai perhimpunan dagang guna membebaskan rakyat dari cengkeraman modal asing.
W.R. Soepratman
Membangkitkan rasa kebangsaan dan persatuan pemuda Nusantara melalui karya seni musik patriotik, khususnya lagu kebangsaan Indonesia Raya.
MH Thamrin
Memperjuangkan perbaikan nasib kaum Betawi dan rakyat jelata melalui jalur parlemen Volksraad serta menyatukan fraksi nasionalis di GAPI.
Karel Satsuit Tubun
Menjunjung tinggi loyalitas militer dan perlindungan terhadap simbol negara dari ancaman disintegrasi ideologis.
Suryopranoto
Memimpin pemogokan buruh secara frontal dan mendirikan serikat buruh tani guna menuntut upah adil di industri gula kolonial.
Amir Sjarifuddin
Mengintegrasikan perlawanan bawah tanah anti-fasisme dengan garis perjuangan kedaulatan buruh dan kedaulatan maritim Indonesia.
Chaerul Saleh
Mewakili radikalisme gerakan pemuda 'Menteng 31' yang mendesak kemerdekaan mandiri tanpa campur tangan dan janji dari penguasa Jepang.
Wikana
Menuntut proklamasi kemerdekaan dilakukan segera atas nama seluruh rakyat Indonesia tanpa menunggu persetujuan badan bentukan kolonial.
Sukarni
Mendorong percepatan proklamasi lewat penculikan Rengasdengklok agar teks proklamasi murni lahir dari kehendak revolusi rakyat.
Sayuti Melik
Menekankan peran pers revolusioner dalam menyebarkan kesadaran politik marhaen dan mencatat sejarah teks proklamasi yang otentik.
Maria Walanda Maramis
Memajukan taraf hidup perempuan di Minahasa melalui pendidikan rumah tangga, kesehatan anak, dan hak pilih perempuan di dewan perwakilan.
Rohana Kudus
Mendirikan surat kabar perempuan pertama 'Sunting Melayu' guna memajukan intelektualitas dan kemandirian ekonomi wanita Sumatra Barat.
Nyai Ahmad Dahlan
Menggagas wadah pergerakan perempuan muslim 'Aisyiyah' untuk memajukan peran wanita di ranah sosial, keagamaan, dan pendidikan anak.
Opu Daeng Risadju
Memimpin perlawanan bersenjata dan perlawanan kultural menentang penjajah Belanda di wilayah Sulawesi Selatan melalui basis Sarekat Islam.
Frans Kaisiepo
Menegaskan integrasi wilayah Papua ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia serta menentang pembentukan negara boneka Papua oleh Belanda.
Silas Papare
Membentuk Partai Kemerdekaan Irian Indonesia untuk memperjuangkan pembebasan tanah Papua dari kolonialisme Belanda menuju NKRI.
Marthen Indey
Menggalang kekuatan masyarakat adat Papua dan mantan tentara KNIL untuk berbalik membela kedaulatan Proklamasi Indonesia.
Sultan Syarif Kasim II
Mengorbankan tahta dan seluruh kekayaan Kesultanan Siak guna diserahkan demi berdirinya kedaulatan Republik Indonesia yang merdeka.
Sri Sultan Hamengkubuwono IX
Menyatakan keraton Yogyakarta sebagai bagian integral RI dan menyediakan perlindungan fisik serta logistik bagi pusat pemerintahan revolusi.
Fatmawati
Menjaga martabat kebangsaan dengan menjahit Sang Saka Merah Putih sebagai perlambang kedaulatan fisik dan spiritual Indonesia merdeka.